Uni Eropa (EU) pada Senin (26/5) memanggil perwakilan diplomatik teratas Rusia di Brussel menyusul peringatan Moskow yang menyerukan warga asing dan diplomat untuk segera meninggalkan Kyiv. Peringatan ini dikeluarkan menjelang rencana serangan baru terhadap ibu kota Ukraina, memicu kemarahan Brussels yang menilai langkah tersebut sebagai upaya destabilisasi Eropa oleh Presiden Rusia.
Anitta Hipper, juru bicara kebijakan luar negeri EU, menegaskan bahwa ancaman terhadap warga sipil asing dan diplomat di Kyiv merupakan “eskalasi yang tidak dapat diterima.” Pihak EU telah memanggil Chargé d’Affaires Rusia dan mendesak Moskow untuk menghentikan serangan terhadap warga sipil serta terlibat dalam perundingan damai yang tulus dengan gencatan senjata penuh dan tanpa syarat.
EU Tetap Bertahan di Kyiv
Meski ancaman meningkat, delegasi EU mengumumkan akan tetap berada di Kyiv sebagai bentuk solidaritas dengan Ukraina. Keputusan ini diambil di tengah kunjungan Ursula von der Leyen, Presiden Komisi Eropa, ke Lithuania yang juga menghadapi insiden pelanggaran wilayah udara oleh drone Rusia dalam beberapa pekan terakhir.
“Ancaman ini sekali lagi membuktikan apa yang sudah kita ketahui: bahwa Rusia sama sekali tidak tertarik pada perdamaian dan sepenuhnya mengabaikan semua upaya menuju penyelesaian konflik,” tegas Hipper dalam pernyataannya di platform X (sebelumnya Twitter).
Pola Destabilisasi Berlanjut
Para pengamat internasional melihat taktik Rusia sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk mengganggu kestabilan Eropa. Perintah mengosongkan Kyiv tidak hanya ditujukan untuk mengintimidasi Ukraina, tetapi juga untuk mengirim sinyal politik kepada negara-negara Barat yang mendukung Kyiv.
Situasi ini menambah ketegangan di kawasan Eropa Timur, di mana beberapa negara telah memanggil duta besar Rusia mereka untuk memberikan protes resmi. Langkah serupa juga pernah terjadi di konflik internasional lainnya yang melibatkan eskalasi militer di tengah upaya diplomasi.
Von der Leyen dalam kunjungannya ke Lithuania menekankan komitmen EU untuk terus mendukung Ukraina secara penuh, baik melalui bantuan kemanusiaan, militer, maupun sanksi ekonomi terhadap Rusia. “Kami tidak akan mundur dari komitmen kami,” ujarnya dalam konferensi pers bersama Presiden Lithuania.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Rusia terkait pemanggilan perwakilan diplomatik mereka oleh EU. Namun, pengamat memperkirakan Moskow akan tetap melanjutkan strategi intimidasinya sebagai bagian dari tekanan terhadap dukungan Barat kepada Kyiv.
Sumber: The Guardian (baca selengkapnya)
Sumber: The Guardian (baca selengkapnya)