Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Protes Pengusaha MBG Berhenti Sementara: “Tabola Bale”

Pengusaha kantin sekolah di dapur kosong saat libur MBG dihentikan sementara
Pengusaha Mbg Protes. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Ribuan pengusaha warung makan dan kantin sekolah di Jawa menghadapi krisis pendapatan setelah pemerintah menghentikan sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah. Keputusan yang ditujukan untuk menghemat Rp 3 triliun ini mengakibatkan hilangnya pesanan besar-besaran dan memaksa mereka menutup operasional, padahal biaya tetap seperti gaji karyawan dan utilitas terus berjalan.

Seruan “Tabola Bale” — istilah lokal yang berarti “jangan berhenti” — kini bergema dari pengusaha yang menggantungkan hidup dari kontrak MBG. Mereka memprotes keras dan mengajukan proposal negosiasi kepada Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mencari solusi kompromi sebelum libur sekolah berikutnya.

Kontrak MBG Sebagai Penopang Ekonomi Pengusaha Kecil

Bagi mayoritas pengusaha warung dan kantin, terutama yang beroperasi di sekolah-sekolah negeri, kontrak MBG bukanlah sekedar sumber pendapatan tambahan. Ini adalah jantung bisnis mereka.

Seorang pengusaha kantin di Jakarta Selatan menjelaskan realitas operasionalnya. “Dalam sebulan, 80 persen pendapatan saya berasal dari pesanan MBG untuk murid-murid. Ketika ada libur, itu artinya pendapatan hilang tapi biaya tetap,” katanya saat dihubungi awal Desember lalu.

Perhitungan rutin mereka sederhana namun menyedihkan. Sebuah kantin kecil dengan 10-15 karyawan membutuhkan minimal Rp 20-30 juta setiap bulan hanya untuk gaji, listrik, air, sewa tempat, dan pemeliharaan peralatan. Program MBG biasanya menjamin aliran kas stabil karena pembayaran dari sekolah atau pemerintah relatif teratur.

Libur sekolah tiga hingga empat minggu? Itu bukan “istirahat”, melainkan keadaan darurat finansial.

Dampak Beruntun: Dari Pengusaha hingga Karyawan

Ketika BGN menetapkan penghentian sementara MBG di 76 sekolah di Jawa — terutama pada libur akhir tahun dan libur semester — efek domino langsung terasa.

Karyawan kantin mengalami hal pertama. Jam kerja dipotong drastis atau bahkan dirumahkan tanpa upah. Pengusaha yang sudah membeli stok bahan makanan untuk dua minggu ke depan terpaksa merugi karena pesanan sekolah tiba-tiba hilang. Beberapa bahkan terpaksa membuang bahan yang sudah rusak karena tidak terpakai.

Seorang pengusaha warung di Tangerang menceritakan pengalamannya pada akhir November 2024. “Saya baru beli 500 kg beras, daging, dan sayuran untuk persediaan dua minggu. Tiga hari kemudian sekolah libur. Ya, semuanya jadi rugi. Bayangkan, itu uang saya untuk hidup dan bayar karyawan,” ujarnya dengan nada frustasi.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda