Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
HUKUM KRIMINAL

Anggap Sony Sonjaya Tak Jujur, Elza Syarief Pilih Mundur

Ruang pengadilan atau kantor hukum dengan dokumen dan kitab undang-undang untuk ilustrasi kasus pidana korupsi
Elza Syarief mundur sebagai pengacara Sony Sonjaya karena merasa dibohongi terkait kasus korupsi MBK. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Elza Syarief memutuskan mundur sebagai pengacara Sony Sonjaya. Keputusan itu diambil karena Elza merasa dibohongi oleh kliennya sendiri dalam kasus dugaan korupsi Manajemen Berbasis Kinerja (MBK) di Kementerian Pendidikan.

Mundurnya pengacara ternama itu menambah kompleksitas hukum yang dihadapi Sony Sonjaya jelang pemeriksaan di Kejaksaan Agung hari ini. Seorang pengacara yang merasa kehilangan kepercayaan pada klien biasanya menjadi pertanda gawat dalam proses hukum pidana.

“Saya tidak bisa melanjutkan jika ada ketidakjujuran,” ujar Elza Syarief dalam pernyataan singkat kepada media. Dia tidak merinci bentuk kebohongan apa yang dimaksudkan, namun nada bicaranya jelas menunjukkan kekecewaan mendalam.

Tekanan Pengajuan Judicial Review

Penarikan diri Elza Syarief terjadi di tengah upaya Sony Sonjaya mengajukan Judicial Review (JC) ke Mahkamah Agung. Pengajuan tersebut merupakan strategi hukum untuk menggugat keputusan penyidik yang menganggap Sony Sonjaya tersangka.

Namun strategi hukum itu tampak goyah setelah pengacaranya sendiri tak lagi percaya. Dalam praktik hukum pidana Indonesia, kepercayaan antara pengacara dan klien adalah fondasi pertahanan. Ketika fondasi itu retak, pertahanan menjadi rapuh.

Sony Sonjaya terlibat dalam kasus yang melibatkan 26 nama sebagai tersangka dalam dugaan korupsi terkait sistem MBK di lingkungan Kemendikbud. Kasus ini telah menarik perhatian berbagai lembaga antikorupsi dan media massa.

Respons dari Tim Hukum Sony Sonjaya

Pengacara lain dari tim Sony Sonjaya merespons keputusan Elza Syarief. Mereka menyatakan siap melanjutkan pertahanan meskipun ada perubahan komposisi tim legal. Namun, pengacara tersebut juga mengakui bahwa mundurnya Elza membawa dampak psikologis dalam strategi pertahanan keseluruhan.

“Kami tetap fokus pada pemeriksaan Kejagung hari ini,” kata salah satu pengacara Sony Sonjaya. Pernyataan itu dirilis untuk menjaga image klien meskipun di balik layar situasinya jauh lebih goyah.

Risiko Hukum Penyebutan 26 Nama

Para ahli hukum pidana memperingatkan bahwa penyebutan 26 nama dalam berkas penyidikan dugaan korupsi MBK tanpa bukti kuat bisa berujung pada pidana bagi penyidik sendiri. Ini menjadi tekanan tambahan bagi Sony Sonjaya karena penyidik mungkin akan memaksakan bukti untuk mempertahankan penyebutan tersebut.

Praktik itu dikenal dalam dunia hukum sebagai “forced investigation” — penyelidik mencari bukti untuk mencocokkan teori, bukan sebaliknya. Risiko ini membuat posisi Sony Sonjaya semakin kompleks. Di satu sisi dia harus menghadapi penyidikan, di sisi lain pengacaranya sendiri sudah pergi.

Pakar pidana dari salah satu universitas ternama mengatakan bahwa tanpa bukti substantif, penyebutan puluhan nama bisa menjadi boomerang bagi aparatur penegak hukum. Namun itu juga berarti Sony Sonjaya dan tersangka lainnya akan mengalami tekanan hukum yang intens dalam beberapa bulan ke depan.

Pergolakan di Balik Layar

Pergolakan internal antara pengacara dan klien jarang terbuka ke publik. Keputusan Elza Syarief untuk mundur secara terbuka menunjukkan keseriusan masalah. Umumnya pengacara akan mencari cara elegan untuk mundur tanpa dramatis, namun dalam kasus ini pengumuman dilakukan langsung.

Ini bisa menunjukkan bahwa Sony Sonjaya telah menyangkal informasi atau bukti yang sebelumnya dia sampaikan kepada Elza. Dalam membangun pertahanan pidana, kejujuran dari klien kepada pengacaranya adalah syarat mutlak. Jika klien berbohong, pengacara tidak hanya kehilangan kepercayaan tetapi juga posisi etis mereka di hadapan pengadilan.

Pemeriksaan Kejagung yang dijadwalkan hari ini akan menjadi momen krusial bagi Sony Sonjaya tanpa dukungan penuh dari pengacara andalannya. Tim hukum yang baru atau yang tersisa akan bekerja di bawah tekanan waktu dan kepercayaan yang teramat terbatas.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa dalam perkara pidana, integritas klien terhadap pengacaranya sama pentingnya dengan bukti-bukti di pengadilan. Sony Sonjaya kini harus berjalan sendirian dalam labirin hukum yang semakin rumit.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda