Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Lonjakan nitrous oxide di Australia picu risiko kematian

nitrous oxide dalam tabung besar yang dikirim ke rumah
Lonjakan nitrous oxide di Australia memicu kematian, kerusakan saraf, dan psikosis. (Ilustrasi: AI)

Impor melonjak 15 kali lipat

Data Australian Border Force menunjukkan impor nitrous oxide melonjak tajam dalam satu dekade terakhir. Pada 2015, Australia mengimpor 249 ton. Pada 2025, angkanya naik menjadi hampir 3.800 ton, atau sekitar 15 kali lipat. Nilai kepabeanannya juga naik dari sekitar 2 juta dolar Australia menjadi 19 juta dolar Australia pada periode yang sama.

Angka itu belum otomatis berarti seluruh kenaikan berasal dari konsumsi rekreasional. Namun, para peneliti dan tenaga klinis menilai lonjakan tersebut sulit diabaikan. Australia belum memiliki data nasional yang komprehensif soal konsumsi nitrous oxide. Karena itu, seberapa besar penyalahgunaan di kalangan remaja dan dewasa muda masih kabur.

Asisten Profesor Jacqui Cameron, peneliti pekerja sosial di University of Wollongong, menilai ketiadaan data prevalensi nasional jadi masalah besar. “Kami sebenarnya tidak benar-benar tahu, terutama di kalangan anak muda, seberapa banyak mereka menggunakan karena kami tidak menanyakan pertanyaan itu,” kata Cameron kepada 7.30.

Risetnya menemukan banyak anak muda tak menganggap nitrous oxide sebagai narkotika berbahaya. Mereka melihatnya aman karena tidak ilegal dan mudah didapat. Sebagian memakainya saat menuju pesta, sebagian lain mencampurnya dengan alkohol dan obat lain. Efeknya singkat. Satu balon. Lalu habis. Karena durasinya pendek, banyak yang langsung mengulang lagi untuk mengejar sensasi yang sama.

Dari coba-coba menjadi kecanduan

Sam Bramman, 21 tahun, tahu betul bagaimana kebiasaan itu bisa berubah cepat. Pekerja taman di Sydney itu pertama kali mencoba nitrous oxide di sebuah pesta pada 2023. Dari sekadar coba-coba, ia jatuh ke pola konsumsi yang makin sulit dikendalikan. “Saya cepat sekali jadi kecanduan,” katanya kepada 7.30.

Di puncak kecanduannya, hari-hari Bramman berputar di sekitar satu hal: mendapatkan dan memakai nangs. “Saya akan terus berpikir, ‘Kapan saya dapat hisapan berikutnya?’” ujarnya. Kondisinya lalu memburuk menjadi episode psikotik berkepanjangan. Ia kabur dari rumahnya di Sydney dalam keadaan paranoid berat, lalu mengemudi ke Gold Coast karena mengira polisi mengejarnya.

Halaman:123Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda