Perbedaan usia ini penting. Donaldjohanson memberi gambaran tentang asteroid yang lebih “muda”, namun tetap menyimpan lapisan sejarah panjang. Permukaannya memperlihatkan kawah, punggung, dan bagian yang tampak melunak, seolah-olah material lepas pernah mengalir perlahan ke lereng yang lebih rendah.
Cahaya Matahari ikut mengubah putaran asteroid Donaldjohanson
Perubahan itu tidak terjadi sendirian. Para peneliti menilai efek YORP, yaitu dorongan sangat kecil akibat radiasi Matahari, ikut mengubah putaran asteroid Donaldjohanson sedikit demi sedikit. Saat permukaan asteroid memanas, energi itu dilepas kembali sebagai radiasi inframerah. Reaksi baliknya kecil sekali, tetapi terus bekerja selama jutaan tahun.
Karena bentuk Donaldjohanson tidak simetris, dorongan kecil itu tidak saling meniadakan. Akibatnya, rotasinya perlahan berubah. Para peneliti memperkirakan asteroid ini dulu berputar setidaknya 10 kali lebih cepat saat baru terbentuk. Dalam 20 juta sampai 60 juta tahun terakhir, putarannya melambat.
Ketika putaran melambat, keseimbangan antara gaya sentrifugal dan gravitasi ikut bergeser. Batu-batu longgar dan debu bergerak turun lereng. Kawah yang tadinya tegas jadi tampak lebih lembut. Permukaan asteroid pun berubah, pelan sekali, tanpa satu ledakan besar.
Efek YORP bukan cerita baru. Bennu dan Ryugu juga diduga mengalami perubahan serupa, meski arah pengaruhnya bisa berbeda. Bennu berputar sekitar empat jam sekali, sedangkan Ryugu sekitar tujuh jam. Keduanya kemungkinan pernah bergerak jauh lebih lambat sebelum YORP mempercepat putarannya.
Jejak air purba di permukaan
Yang tidak kalah menarik, instrumen Lucy mendeteksi mineral lempung kaya besi di permukaan Donaldjohanson. Mineral semacam ini hanya terbentuk jika ada air cair. Artinya, asteroid itu pernah bersentuhan dengan air. Bukan lama, menurut para peneliti. Hanya singkat.
Alasannya ada pada komposisi mineralnya. Jika air mengalir dalam waktu lama, besi di dalam lempung cenderung tergantikan oleh unsur lain, seperti magnesium. Pada Donaldjohanson, lempungnya masih kaya besi. Itu tanda bahwa air memang hadir, tetapi tidak bertahan lama.
Di Bennu dan Ryugu, ceritanya berbeda. Keduanya memiliki lempung kaya magnesium, yang mengindikasikan paparan air lebih panjang, mungkin sampai jutaan tahun, ketika mereka masih menjadi bagian dari tubuh induk yang lebih besar. Perbandingan ini memberi petunjuk bahwa benda-benda asalnya terbentuk di tempat atau waktu yang tidak sama.
Bagi pembaca awam, hasil ini mungkin terdengar jauh. Namun dampaknya besar. Dari asteroid kecil, ilmuwan bisa mengurai bagaimana bahan pembentuk planet berpindah, pecah, menyatu lagi, lalu menyimpan jejak air dan panas di sudut tata surya yang berbeda.
Latihan penting sebelum misi ke asteroid Troya Jupiter
Penerbangan Lucy ke Donaldjohanson juga bukan kunjungan biasa. Ini semacam pemanasan sebelum wahana itu menyasar asteroid Troya Jupiter, dengan target awal Eurybates pada 12 Agustus 2027. Tim misi memanfaatkan lintasan ini untuk menguji sistem wahana dan prosedur operasional sebelum masuk ke bagian misi yang lebih ambisius.
Simone Marchi, wakil peneliti utama Lucy sekaligus penulis utama studi dari kantor Southwest Research Institute di Boulder, Colorado, mengatakan perbandingan antar-asteroid membantu ilmuwan membaca asal-usul tata surya. “Setiap perbedaan kecil adalah petunjuk lain dalam kisah asal-usul kita,” ujarnya.
Kalimat itu terasa pas untuk menggambarkan temuan Lucy. Donaldjohanson memang kecil. Namun dari bentuknya yang mirip kacang, rotasinya yang goyah, dan mineral yang menyimpan jejak air, ia justru membuka banyak pertanyaan besar tentang masa lalu tata surya. Satu lintasan singkat. Banyak jawaban baru.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.