JAKARTA — literasi digital jadi senjata yang paling ditekankan Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) untuk membendung kejahatan siber yang makin licin, terutama di sektor keuangan digital. Di Jakarta, asosiasi itu mendorong edukasi keamanan siber lintas sektor lewat forum bersama regulator, pemerintah daerah, dan industri.
Langkah ini muncul ketika modus penipuan digital makin sulit ditebak. Pelaku tak lagi sekadar mengincar kelengahan teknis, tapi juga psikologis pengguna jasa keuangan.
ABI menyampaikan dorongan itu saat ikut Festival Aman Digital 2026 yang digelar Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) di Balai Kota Jakarta, beberapa hari lalu. Forum itu dipakai untuk mengonsolidasikan langkah pencegahan fraud digital di antara pemerintah, perbankan, perusahaan teknologi, dan pelaku industri aset kripto.
Modus penipuan bergeser, pengguna jadi target utama
Deny Giovanno, Anggota Departemen Advokasi Strategis Asosiasi Blockchain Indonesia yang juga Public Policy & Government Relations Manager PT Pintu Kemana Saja (PINTU), mengatakan industri tak bisa lagi bersikap pasif. Menurut dia, lonjakan kejahatan siber memaksa pelaku usaha ikut berdiri di garis depan perlindungan konsumen.
“Untuk memerangi kejahatan siber, kami terus mendorong peningkatan literasi keamanan siber yang dilakukan oleh ABI dan para anggotanya. Salah satunya melalui Bulan Literasi Kripto yang diadakan sejak tahun 2023,” kata Deny dalam keterangan resmi, dikutip Jumat, 26 Juni 2026.
Pernyataan itu penting karena ancaman digital kini tidak hanya memanfaatkan celah sistem. Banyak penipu justru menunggu korban lengah, lalu masuk lewat pesan singkat, tautan palsu, atau skenario yang terlihat meyakinkan. Sekali korban terpancing, kerugian bisa terjadi dalam hitungan menit.
ABI sendiri menempatkan edukasi sebagai bagian dari pertahanan. Bagi industri blockchain dan aset kripto, literasi bukan pelengkap. Itu fondasi. Tanpa pemahaman dasar, pengguna sulit membedakan mana platform sah, mana penawaran bodong, dan mana akun palsu yang sengaja dibuat menyerupai layanan resmi.
OJK sorot kelompok usia produktif paling rawan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) lewat Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal atau Satgas PASTI juga menyoroti pentingnya penguatan literasi digital. Regulator melihat pola fraud digital bergerak cepat mengikuti perkembangan teknologi.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.