Di sinilah yang membuat fans paling berang. Hong memilih untuk membangkucadangkan Son Heung-min sejak menit pertama — dalam pertandingan yang paling krusial. Son, mantan kapten Tottenham Hotspur dan pemain terbaik Asia selama bertahun-tahun, baru masuk di babak kedua. Korea tetap kalah 0-1.
“Saya sejujurnya tidak tahu harus mulai dari mana,” tulis Son di Instagram setelah kepulangannya. “Saya tidak bisa berpura-pura seolah tidak ada yang terjadi, dan saya tidak mau lari dari kenyataan.” Son meminta maaf kepada publik, sekaligus memohon agar dukungan untuk tim nasional tidak berhenti.
⚽ Baca juga: Piala Dunia 2026 — Bagan, Jadwal Hari Ini & Klasemen Live
Korea akhirnya finis di posisi ketiga Grup A dengan tiga poin. Format Piala Dunia 2026 yang diperluas memang memberi peluang bagi delapan tim terbaik di posisi ketiga untuk lolos ke babak 32 besar. Tapi Korea tidak masuk hitungan. Mereka selesai di peringkat 34 secara keseluruhan — salah satu hasil paling mengejutkan di turnamen ini.
Lebih dari Sekadar Sepak Bola
Reaksi publik Korea Selatan terhadap kekalahan ini memperlihatkan betapa besar beban ekspektasi yang dipikul tim nasional. Bukan hanya soal trofi — ini soal harga diri nasional, investasi emosional puluhan juta orang, dan standar yang sudah dibangun sejak semifinal Piala Dunia 2002.
Ketika sebuah kekalahan sepak bola sampai harus diselidiki oleh presiden dan diamankan oleh ratusan polisi, itu bukan lagi urusan lapangan hijau semata. Itu urusan negara.
Kini Korea Selatan harus menjawab satu pertanyaan besar: siapa yang akan memimpin tim ini ke depan, dan bagaimana membangun kembali kepercayaan publik yang hancur lebur hanya dalam tiga pertandingan?
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.