Data dari laporan We Are Social 2024 mencatat Indonesia sebagai negara dengan rata-rata penggunaan media sosial tertinggi di dunia, sekitar 3 jam 14 menit per hari. TikTok menjadi platform dengan pertumbuhan konsumsi konten keagamaan yang signifikan, terutama pada segmen usia 18–34 tahun. Generasi inilah yang paling terpapar — dan ironisnya, seringkali paling rendah literasi keagamaan formalnya.
ICMI Jatim tidak sendirian dalam keprihatinan ini. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebelumnya juga sudah mengeluarkan imbauan agar masyarakat kritis terhadap konten keagamaan yang beredar di platform digital, meski belum ada regulasi spesifik yang mengatur konten dakwah berbasis AI.
Literasi Digital sebagai Tameng
ICMI Jatim mendorong pendekatan berlapis. Pertama, penguatan literasi digital berbasis nilai — bukan sekadar mengajarkan cara membedakan hoaks, tapi membangun kesadaran bahwa konten keagamaan punya standar kredibilitas yang berbeda dari konten hiburan biasa.
Kedua, institusi pendidikan Islam perlu aktif hadir di ruang digital. Pesantren, madrasah, dan lembaga kajian harus bersaing — dalam arti positif — dengan konten AI yang secara visual jauh lebih menarik. Ini bukan soal menolak teknologi. Justru sebaliknya.
“Ulama dan cendekiawan muslim harus masuk ke ruang digital, bukan meninggalkannya. Biarkan suara yang terverifikasi lebih keras dari suara algoritma,” ujar Ulul Albab.
Ketiga, platform digital perlu didorong untuk memberi label transparansi pada konten yang sepenuhnya dibuat AI — khususnya untuk kategori sensitif seperti agama, kesehatan, dan hukum. Beberapa negara Eropa sudah mulai menerapkan regulasi serupa melalui AI Act yang mulai berlaku bertahap sejak 2024.
Tapi regulasi butuh waktu. Dan algoritma tidak menunggu.
Bukan Antitesis Teknologi
Penting dicermati: posisi ICMI Jatim bukan posisi anti-teknologi. Ulul Albab secara eksplisit menyebut AI sebagai alat yang bisa sangat bermanfaat — untuk menerjemahkan kitab klasik, membuat indeks referensi hadis, bahkan membantu da’i menyiapkan materi ceramah.
Masalahnya muncul ketika AI tidak lagi sekadar alat bantu, tapi menjelma menjadi otoritas itu sendiri. Ketika penonton tidak tahu bahwa sosok ustazah yang ia ikuti tidak pernah benar-benar ada. Ketika tidak ada manusia yang bisa dimintai klarifikasi jika ada yang keliru.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.