JAKARTA — Jutaan pengguna TikTok terpesona oleh sosok penceramah perempuan berwajah anggun, suara merdu, dan gaya dakwah yang runtut. Nyatanya, ia tidak pernah ada — seluruhnya hasil rekayasa kecerdasan buatan.
Fenomena ustazah AI itu kini memantik respons serius dari kalangan cendekiawan muslim. Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Jawa Timur menilai tren ini bukan sekadar tontonan visual sesaat, melainkan disrupsi yang menyentuh fondasi otoritas keagamaan.
Ketika Mesin Bisa Berkhotbah
Algoritma modern sekarang mampu memproduksi ribuan konten syiar, mengutip ayat Al-Qur’an, hingga menyusun narasi teologis yang terdengar sahih — dalam hitungan detik. Wajahnya meyakinkan. Suaranya lembut. Tampilannya sempurna secara estetika.
Masalahnya tepat di situ.
Ketua ICMI Jatim periode 2021–2026, Ulul Albab, menyebut situasi ini sebagai krisis yang nyata. Konten dakwah AI tidak melewati satu pun proses validasi keilmuan — tidak ada sanad, tidak ada ijazah, tidak ada guru yang bisa dimintai pertanggungjawaban jika ada kekeliruan fatwa. Padahal dalam tradisi keilmuan Islam, rantai transmisi ilmu dari guru ke murid bukan sekadar formalitas. Ia adalah mekanisme kontrol kualitas yang sudah berjalan selama berabad-abad.
“Yang berbahaya bukan teknologinya, tapi ketika masyarakat tidak bisa membedakan mana konten yang lahir dari otoritas keilmuan yang sah dan mana yang diproduksi algoritma,” kata Ulul Albab dalam forum diskusi ICMI Jatim, Juni 2025.
Bayangkan skenario ini: seorang ibu muda di Sidoarjo menonton video ustazah AI yang membahas hukum zakat fitrah. Bahasanya fasih, referensinya terkesan lengkap. Ia percaya, lalu menyebarkannya ke grup WhatsApp keluarga. Jika ada satu detail yang keliru — salah menyebut nisab, salah mengutip hadis — kesalahan itu bisa menyebar ke ratusan orang sebelum siapapun sempat memverifikasi.
Otoritas Keagamaan di Persimpangan
Persoalan ini bukan hanya soal benar-salah konten. Ada dimensi yang lebih dalam: siapa yang berhak bicara soal agama, dan bagaimana kita tahu seseorang memiliki kompetensi itu?
Dalam ekosistem digital yang tidak mengenal batas geografis, seseorang — atau sesuatu — bisa menjangkau jutaan pendengar tanpa pernah melewati proses pendidikan formal, tanpa pesantren, tanpa halaqah, tanpa teguran dari ulama senior. Model AI generatif belajar dari teks-teks yang tersedia di internet, yang kualitasnya sangat tidak merata. Ia bisa mengombinasikan pendapat yang secara fikih saling bertentangan menjadi narasi yang terdengar kohesif — dan kebanyakan pendengar awam tidak punya alat untuk mendeteksinya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.