DeLauro juga menyorot alokasi untuk patroli perbatasan tanpa “substantial reforms” terhadap lembaga yang punya peran besar dalam pengetatan kebijakan imigrasi di bawah Donald Trump. Dalam pandangannya, DPR sedang “putting the cart before the horse” karena membahas aturan tanpa gambaran utuh soal kebutuhan operasional sampai 4 Desember.
Taruhannya besar saat Kongres masuk fase kampanye
Kalau Senat gagal meloloskan RUU pendanaan ini, perundingan anggaran akan makin panas mulai September saat Kongres kembali ke Washington DC setelah hampir sepanjang Agustus reses. Batas akhir di akhir bulan akan menekan kedua kubu untuk memilih: kompromi cepat atau risiko shutdown yang bisa mengganggu layanan federal.
Taruhannya bukan cuma politik internal Washington. Bagi warga Amerika, shutdown berarti instansi federal berjalan tersendat, keputusan administratif tertahan, dan ketidakpastian merembet ke banyak layanan publik. Bagi pasar dan pelaku usaha, isyarat ketidakstabilan anggaran seperti ini juga sering dibaca sebagai sinyal bahwa Gedung Putih dan Kongres belum punya ritme kerja yang solid.
Masalahnya, semua itu terjadi saat peta politik sedang memanas. Pemilu sela November membuat Demokrat berharap bisa merebut kembali DPR dan, mungkin, Senat. Mereka hanya butuh selisih setidaknya tiga kursi di negara bagian yang dua tahun lalu memilih Trump. Jadi, setiap suara di RUU pendanaan ikut membawa beban kampanye.
Tom Cole dan pimpinan Republik ingin memutus siklus itu sebelum berubah jadi bahan bakar politik. Senat kini memegang kunci terakhir. Bila kamar atas ikut mengunci persetujuan sebelum 30 September, pemerintah bisa lolos dari shutdown dan langsung berjalan ke 4 Desember tanpa drama tambahan.
Kalau tidak, negosiasi yang sempat tertahan sepanjang Agustus akan kembali meledak tepat saat kalender politik Amerika memasuki fase paling panas.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.