JAKARTA — makanan MBG ikut disorot setelah muncul keluhan soal rasa yang disebut tidak enak oleh sebagian penerima. Dalam catatan Dahlan Iskan yang dimuat JPNN.com, ada cerita seorang ibu yang mengatakan anaknya tidak mau makan makanan MBG.
Catatan itu tidak berhenti di soal selera. Dahlan Iskan justru mengaitkannya dengan pengalaman sehari-hari saat mencoba makanan di restoran baru, lalu mendapati satu menu tidak sesuai harapan. Dari situ, ia menekankan bahwa rasa memang perkara yang sangat personal.
Makanan MBG, selera, dan batas penilaian
Dahlan Iskan menulis, Anda sudah tahu: enak dan tidak enak itu selera. Ia juga mengingatkan bahwa enak belum tentu bergizi, bahkan belum tentu tidak berbahaya bagi kesehatan. Kalimat ini membuat isu rasa tidak bisa dipisahkan dari dua hal lain yang sering luput dibahas: isi gizi dan dampak setelah makan.
Ia lalu bercerita pernah memuji satu masakan karena enak sekali, tetapi setengah jam kemudian justru menyesal. Tenggorokan terasa terganggu, lidah juga ikut merasakan ketidaknyamanan. Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa penilaian makanan tidak cukup berhenti di gigitan pertama.
Dalam catatan itu, Dahlan Iskan bahkan menduga ada kemungkinan makanan yang awalnya terasa enak lalu berujung tidak enak karena penggunaan bahan tertentu. Ia menyebut, mungkin karena terlalu banyak menggunakan vetsin. Tapi, catatan itu tetap dibingkai sebagai cerita pengalaman, bukan vonis atas seluruh makanan MBG.
Yang lebih mendesak dari soal rasa
Bagian paling penting dari catatan ini justru ada pada prioritas pembahasan. Menurut Dahlan Iskan, soal MBG enak atau tidak enak mungkin belum waktunya dibahas. Alasannya jelas: masih terlalu banyak persoalan internal BGN yang lebih prioritas untuk diselesaikan.
Di titik ini, keluhan soal rasa makanan MBG memang punya tempat. Seorang anak yang menolak makan, misalnya, memberi sinyal bahwa penyelenggara program tidak bisa hanya mengandalkan asumsi bahwa semua menu akan diterima baik oleh penerima manfaat. Namun, catatan Dahlan Iskan mengarahkan perhatian ke lapisan yang lebih besar: kualitas pelaksanaan, kesiapan pengelolaan, dan pembenahan di tubuh BGN.
Itu sebabnya, pembahasan tentang makanan MBG tidak bisa dipersempit menjadi enak atau tidak enak semata. Kalau rasa jadi satu-satunya ukuran, program mudah terseret ke debat selera. Padahal, di balik sepiring makanan ada urusan penerimaan, kebiasaan makan, dan kepercayaan publik pada program yang dijalankan.
Catatan JPNN.com juga menegaskan bahwa keluhan soal rasa belum berarti semua makanan MBG bernasib sama. Ada satu cerita ibu yang anaknya tidak mau makan, tetapi dari situ tidak otomatis lahir kesimpulan untuk seluruh penyajian. Isu ini masih menyisakan banyak ruang untuk pembenahan, terutama saat perhatian publik mulai bergeser dari rasa ke mutu pelaksanaan program.
Di saat perdebatan terus berjalan, satu hal masih akan ditunggu: apakah pembahasan berikutnya tetap berhenti di rasa, atau mulai menyentuh problem yang lebih besar di BGN dan cara program ini dijalankan ke depan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.