JAKARTA — Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani melaporkan sekitar 400 sekolah terdampak gempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Data terus berkembang karena pemerintah masih menginventarisasi tingkat kerusakan bangunan—rusak berat, sedang, dan ringan—serta menyiapkan langkah agar proses belajar mengajar tidak terhenti.
“Per hari ini kami sudah menerima data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta dari Pemerintah Daerah kurang lebih 400 sekolah. Ini masih terus berkembang karena kami meminta untuk diklasifikasikan rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan,” kata Lalu di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/8).
Dampak Menyebar ke NTB
Pendataan masih dilakukan karena dampak gempa tidak hanya terbatas pada NTT. Sejumlah daerah di Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Kabupaten Bima dan Kota Bima, juga merasakan dampak serupa. “Ini masih terus berkembang karena dampak gempa ternyata tidak hanya di Nusa Tenggara Timur, ada sebagian Nusa Tenggara Barat terutama di Kabupaten Bima dan Kota Bima,” ujar Lalu.
Luasnya jangkauan bencana memerlukan koordinasi yang lebih kompleks antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah di kedua provinsi tersebut. DPR telah membentuk Satuan Tugas Bencana yang dipimpin langsung oleh pimpinan DPR dan telah meninjau lokasi kejadian serta memberikan bantuan darurat.
Prioritas Sekolah Rusak Berat
Menurut Lalu, pemerintah harus memprioritaskan penanganan sekolah dalam kategori rusak berat. Langkah-langkah cepat untuk merevitalisasi bahkan membangun kembali bangunan-bangunan sekolah tersebut sudah dilakukan secara paralel dengan pemutakhiran data.
“Upaya yang dilakukan hari ini selain memutakhirkan data, tentu langkah-langkah cepat dalam rangka merevitalisasi bahkan membangun kembali bangunan-bangunan yang tergolong rusak berat terus dilakukan,” tuturnya.
Komisi X juga meminta pemerintah mendata seluruh warga sekolah yang terdampak, mencakup guru, siswa, dan tenaga kependidikan lainnya. Data ini diperlukan untuk menentukan kebutuhan dukungan psikologis dan bantuan lanjutan bagi komunitas pendidikan yang terkena bencana.
Sekolah Darurat dan Kontinuitas Belajar
Lalu menekankan bahwa proses belajar mengajar tidak boleh terhenti lama akibat bencana. Meski gempa susulan masih berlangsung, pemerintah pusat dan daerah diminta segera mencari solusi, termasuk menggunakan sekolah darurat jika diperlukan. “Kami tidak menginginkan pendidikan kita akan terhenti lama. Kami ingin proses belajar mengajar terus berjalan untuk anak-anak kita yang ada di NTT,” tegasnya.
Strategi yang ditawarkan fleksibel: sekolah yang masih memungkinkan digunakan tetap dimanfaatkan, sedangkan sekolah dengan kerusakan berat dapat dialihkan ke fasilitas darurat. “Jumlah sekolah daruratnya tentu menyesuaikan.
Kalau sekolah existing-nya masih bisa dilakukan tetap diinventarisir, tetapi kami menyarankan agar belajar di sekolah darurat terlebih dahulu, apakah disiapkan berupa tenda atau ditempatkan di sekolah yang tidak terdampak gempa,” pungkas Lalu.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.