Sabtu, 5 September 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Uber keluar Nigeria, ribuan pengemudi cari pemasukan baru

Uber keluar Nigeria dan dampaknya bagi pengemudi
Keputusan Uber keluar Nigeria dan Uganda disebut membuat ribuan pengemudi mencari sumber penghasilan baru. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Uber keluar Nigeria dan Uganda, dan langkah itu langsung membuat ribuan pengemudi harus mencari sumber pemasukan baru. Dalam program malam ini, keputusan tersebut disebut meninggalkan banyak driver dalam situasi serba cepat dan tak pasti.

Bagi pengemudi, ini bukan sekadar soal aplikasi yang hilang dari ponsel. Yang terdampak adalah ritme kerja harian, akses ke penumpang, dan aliran pendapatan yang selama ini bergantung pada platform transportasi daring. Ketika sebuah layanan besar angkat kaki, beban pertama biasanya jatuh ke mereka yang berada paling dekat dengan setir.

Uber keluar Nigeria: dampaknya langsung ke pengemudi

Program itu menyebut Uber juga menarik diri dari Uganda. Dua pasar yang ditinggalkan sekaligus memberi sinyal bahwa keputusan bisnis ini tidak berdiri sendiri, melainkan punya konsekuensi nyata bagi pekerja yang mencari nafkah lewat aplikasi.

Soal dampak, yang paling terasa adalah kepastian pendapatan. Driver yang biasa masuk dan keluar dari aplikasi harus segera beralih ke sumber lain, entah platform berbeda, pekerjaan lain, atau pola kerja yang benar-benar baru. Untuk banyak pengemudi, transisi semacam ini tidak mulus.

Mereka kehilangan sistem yang selama ini memudahkan mencari penumpang, meski mungkin juga menyisakan biaya dan tekanan yang tak kecil.

Di lapangan, keputusan seperti ini sering memicu efek berantai. Pengemudi kehilangan akses ke order, keluarga merasakan tekanan karena pendapatan menyusut, dan pasar transportasi daring ikut bergeser. Tanpa banyak ruang adaptasi, perubahan dari satu aplikasi besar bisa terasa seperti pintu yang mendadak ditutup.

Kenapa langkah ini penting dibaca

Kasus Uber keluar Nigeria menunjukkan betapa rapuhnya sebagian pekerjaan berbasis platform. Selama pengguna dan pengemudi bertemu di aplikasi, semua tampak sederhana. Begitu perusahaan pergi, hubungan kerja itu ikut goyah.

Bukan hanya di Afrika, pelajaran semacam ini juga relevan untuk ekosistem kerja digital di banyak negara, termasuk Indonesia, yang sama-sama makin akrab dengan layanan berbasis aplikasi.

Bagi pekerja transportasi daring, isu terbesarnya bukan semata perpindahan aplikasi. Yang lebih berat adalah waktu jeda tanpa pemasukan. Seorang pengemudi yang sudah membangun kebiasaan kerja di satu platform bisa kehilangan pola harian dalam sekejap, dan pencarian pengganti sering kali memakan waktu lebih lama dari yang dibayangkan.

Keputusan Uber juga menegaskan bahwa pasar transportasi daring tetap sangat bergantung pada strategi bisnis perusahaan. Saat sebuah platform memutuskan mundur, yang tersisa bukan hanya kekosongan layanan, tapi juga pertanyaan tentang siapa yang menanggung beban penyesuaian. Dan di kasus ini, jawabannya jatuh lebih dulu ke tangan para pengemudi.

Dalam program malam ini, isu itu dibahas bersama festival yang menghadirkan Diarah N’Daw-Spech dan Laurence Cole, co-producer film Nigeria Shadow of Greed, yang turut menutup rangkaian pembahasan malam tersebut.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair