Kamis, 10 September 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Kepercayaan publik ke pemerintah AS turun, 6 dari 10 tak percaya

Grafik kepercayaan publik pada pemerintah federal AS
Survei AP-NORC dan USA Facts menunjukkan kepercayaan publik ke informasi pemerintah federal AS terus melemah. (Ilustrasi: AI)

Shannon Ingram, Demokrat berusia 46 tahun dari Maryland, mengatakan ia kesulitan percaya pada pesan pemerintah yang terus berubah. “It’s pretty hard to trust anything that’s being communicated,” kata dia.

Ia menyinggung perubahan anjuran kesehatan sebagai contoh informasi pemerintah yang menurutnya “questionable”. “There is a significant amount of bias, and it comes from the people who are authoring the content,” ujarnya.

Data pemerintah ikut jadi sorotan

Survei ini datang setelah satu setengah tahun gejolak di cabang eksekutif. Trump mulai membongkar bagian penting birokrasi federal tak lama setelah kembali ke Gedung Putih, dengan mendorong akhir program lama dan menutup sejumlah lembaga. Sejak itu, ribuan pegawai federal dipecat atau meninggalkan jabatan mereka.

Pengurangan itu memangkas jumlah ahli statistik pemerintah secara signifikan. Para pakar yang dikutip dalam bahan memperingatkan ada risiko terhadap kualitas data.

Di saat yang sama, perubahan regulasi dan anjuran juga memicu pergeseran kebijakan yang tajam, termasuk soal vaksinasi dan langkah Environmental Protection Agency yang mencabut temuan ilmiah yang selama lebih dari satu dekade menjadi dasar aksi pemerintah melawan perubahan iklim.

Jeremy Cove, Republik berusia 44 tahun dari Missouri, mengatakan ia masih percaya pada panduan pemerintahan Trump untuk urusan seperti vaksin. Tapi ia tidak setuju dengan klaim bahwa perubahan iklim tidak terjadi atau bahwa manusia tidak ikut menyebabkannya.

“I love Trump; I voted for Trump, but some of the things he’s doing just makes me distrust more,” kata dia. Ia juga menyinggung rencana mengganti nama Lake Ontario menjadi Lake America. “Stuff like renaming Lake Ontario to Lake America, it just makes you think about what their priorities are.

Then you realize it’s not what it should be, which in turn, makes you distrust even more,” ujarnya.

Di sisi lain, Larry Haith, Republik berusia 76 tahun dari Idaho, mengatakan ia cenderung percaya pada pemerintah federal, meski penilaiannya bisa berubah tergantung pemerintahan yang berkuasa. “Generally speaking, I’ve got more confidence in the federal government today than I’ve had in years,” katanya.

Menjelang 2026, kekhawatiran publik soal hasil pemilu juga masih tinggi.

Hampir setengah orang dewasa AS sangat atau sangat khawatir pemerintah federal akan mendiskreditkan hasil pemilu, mengutak-atik hasilnya, atau menekan pejabat pemilu negara bagian agar mengubah cara mereka mensertifikasi atau melaporkan hasil.

Dalam beberapa bulan terakhir, Trump kembali mengulang tuduhan kecurangan massal pada pemilu 2020, mendorong pembatasan baru untuk surat suara lewat pos, serta mendesak Kongres menerapkan syarat bukti kewarganegaraan untuk registrasi dan pemungutan suara.

Di saat yang sama, sedikit warga yang percaya pada informasi dari kampanye politik. Sekitar 1 dari 10 orang dewasa AS mengatakan Partai Demokrat dipercaya, sementara kepercayaan pada Partai Republik juga rendah.

Ketika pesan politik, hasil pemilu, dan data pemerintah sama-sama dipandang dengan curiga, ruang untuk keyakinan publik makin sempit. Dan survei ini menunjukkan jurangnya belum dekat tertutup.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda