Pilihan pompa pun tidak bisa sembarangan. Ada pompa sentrifugal yang mampu memuntahkan air hingga 18.000 liter per menit. Sementara untuk kebutuhan di medan yang lebih menantang, mereka menggunakan pompa aksial berkapasitas 12.000 liter per menit. Ada pula pompa bazoka dengan kapasitas 2.400 liter per menit yang disiapkan untuk menjangkau area spesifik yang lebih sempit.
Pemilihan jenis pompa ini disesuaikan dengan kontur medan yang ada. Jarak distribusi pun diperhitungkan dengan cermat agar efisiensi terjaga. Niko menjelaskan bahwa pengaturan air ini adalah bagian dari strategi empat pilar yang mereka terapkan: persiapan, pencegahan, deteksi dini, dan respons cepat. Semuanya terintegrasi menjadi satu rangkaian sistem yang saling mengunci.
Pilar-pilar ini memastikan setiap risiko sekecil apa pun sudah terpetakan sejak dini. Mereka tidak menunggu api muncul untuk mulai bergerak. Sebaliknya, upaya pencegahan sudah dilakukan jauh hari sebelum puncak musim kemarau tiba. Bagi RHM, air adalah benteng pertahanan paling vital di kawasan gambut.
Tidak hanya sekadar menghindari bencana karhutla, langkah ini juga dipandang sebagai cara menjaga kelangsungan ekosistem. Lahan gambut yang basah berarti daya serap karbon dan keanekaragaman hayati tetap terjaga.
Harapannya, operasional perusahaan yang aman bisa berdampak pada kelestarian lingkungan jangka panjang, mengingat gambut merupakan salah satu cadangan karbon terbesar yang harus dijaga dari risiko pemanasan global.
Saat ini, tim di lapangan tetap siaga tinggi. Pemantauan terhadap tinggi muka air gambut dilakukan setiap hari untuk memastikan sistem distribusi air tetap berfungsi optimal, meski cuaca semakin panas dan curah hujan terus menurun di kawasan Musi Banyuasin.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.