JAKARTA, JOURNALARTA.COM — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (US$) melemah pada perdagangan Selasa, 22 September 2026. Rupiah ditutup pada posisi Rp17.884 per US$, turun 37 poin atau 0,21% dari penutupan sehari sebelumnya yang berada di Rp17.847.
Pergerakan rupiah hari ini berada di kisaran Rp17.860 (terendah) hingga Rp17.895 (tertinggi) di pasar spot. Pembukaan hari ini menurut Refinitiv dimulai di Rp17.860 per US$, menunjukkan pelemahan 0,20% dari penutupan Senin.
Penyebab Pelemahan Rupiah Hari Ini
Pelemahan rupiah pada 22 September 2026 dipengaruhi beberapa faktor utama yang mencakup sentimen global dan domestik.
Pertama, antisipasi pasar terhadap kebijakan hawkish Federal Reserve (The Fed). Sembilan dari 19 pembuat kebijakan The Fed memproyeksikan kenaikan suku bunga setidaknya sekali lagi pada tahun 2026, kemungkinan pada Oktober. Tingginya imbal hasil Treasury AS membuat dolar semakin menarik.
Kedua, ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Serangan Houthi Yaman ke Arab Saudi mengganggu jalur ekspor, mendorong harga minyak di atas US$100 per barel. Minyak Brent tercatat di US$103-104 dan WTI di US$100. Kondisi ini meningkatkan risiko inflasi global dan menekan fiskal negara importir energi seperti Indonesia.
Ketiga, dinamika politik domestik terkait pergantian Menteri Keuangan. Presiden Prabowo mengganti Purbaya Yudhi Sadewa dengan Suahasil Nazara pada 14 September 2026. Pasar masih mencerna fokus kebijakan Menkeu baru dalam menjaga defisit fiskal di bawah 3%.
Keempat, adanya kebutuhan valuta asing dari importir dan arus keluar dana portofolio aset domestik. Faktor tambahan adalah pencoretan 29 saham Indonesia oleh FTSE Russell, sementara Vietnam di-upgrade ke status pasar berkembang pada 21 September.
Kelima, pasar menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang berlangsung 22-23 September. Konsensus pasar memperkirakan BI Rate tetap di 5,75%, dengan deposit facility 4,75% dan lending facility 6,5%. Ini merupakan RDG pertama bagi Gubernur definitif Destry Damayanti yang dilantik pada 2 September 2026. BI juga mempertahankan tingkat bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang naik menjadi 7,74% dari 7,59% untuk menjaga daya tarik aset.
Perbandingan Kurs Bank dan Proyeksi
Berikut rincian kurs jual dan beli di beberapa bank besar Indonesia pada 22 September 2026:
| Bank | Jenis Kurs | Beli (Rp) | Jual (Rp) |
|---|---|---|---|
| BCA | e-rate | 17.868 | 17.888 |
| BCA | TT Counter | 17.645 | 17.895 |
| BRI | e-rate | 17.698 | 17.890 |
| BRI | TT Counter | 17.650 | 17.950 |
| Mandiri | special rate | 17.795 | 17.835 |
| Mandiri | TT | 17.590 | 17.890 |
| BNI | special | 17.867 | 17.887 |
| BNI | TT | 17.800 | 17.890 |
Sementara itu, indeks dolar (DXY) stagnan di level 100,425 setelah naik 0,21% sehari sebelumnya. Yen Jepang juga tertekan di 157,33 per US$ akibat perbedaan arah kebijakan dengan Bank of Japan (BOJ).
Proyeksi menunjukkan rupiah akan fluktuatif di kisaran Rp17.800 – Rp17.900. Tekanan bisa berlanjut jika The Fed kembali menaikkan suku bunga dan harga minyak tetap tinggi.
Bagi wajib pajak yang melakukan transaksi impor atau ekspor, perlu diperhatikan Kurs Pajak yang ditetapkan melalui KMK No 44 untuk periode 16-22 September 2026. Kurs pajak berada di Rp17.594 per US$, lebih rendah dibandingkan kurs spot hari ini. Kurs pajak ini berlaku untuk perhitungan PPN, PPh, dan kepabeanan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.