Pasar keuangan mendapat tekanan setelah risalah rapat bank sentral AS memunculkan lagi kemungkinan kenaikan suku bunga. IHSG turun 0,75% ke 6.146,72 pada Rabu (7/10/2026), sementara harga emas dunia merosot 1,25% ke US$4.114,08 per ons.
Data yang dihimpun Bareksa menunjukkan pelemahan bursa Indonesia terjadi lebih dahulu pada jam perdagangan Asia, sebelum risalah dirilis pada 7 Oktober waktu AS. Karena itu, penurunan IHSG hari itu lebih terkait tekanan pada sejumlah saham, sedangkan dampak risalah terhadap pasar saham Indonesia baru dapat terlihat mulai perdagangan 8 Oktober.
IHSG melemah, investor asing jual bersih
IHSG mengakhiri kenaikan tiga hari beruntun. Sebanyak 390 saham turun dan 280 saham naik, sementara investor asing mencatat jual bersih Rp871 miliar. Dalam sepekan, indeks masih naik 1,24%, tetapi posisinya turun 7,14% sejak 7 September.
Saham WIFI, BRPT, GOTO, dan EMTK disebut sebagai tekanan bagi bursa. Angka perdagangan itu penting untuk membaca konteks: penurunan IHSG tidak tepat dikaitkan langsung dengan risalah The Fed yang terbit setelah sesi Asia bergerak.
Di pasar lain, rupiah relatif datar di Rp17.873 dan tercatat melemah 0,04% harian. Imbal hasil SBN 10 tahun naik tipis menjadi 7,167%, sedangkan imbal hasil obligasi AS 10 tahun naik ke 5,284%. Minyak Brent naik 0,62% pada hari itu, meski turun 2,25% dalam sepekan.
Risalah The Fed menekan harga emas
Dilansir Kitco News, emas turun 1,25% menjadi US$4.114,08 per ons setelah risalah rapat The Fed pada 15–16 September dirilis. Kenaikan suku bunga pada September disetujui bulat, sedangkan mayoritas pejabat menilai kenaikan lagi mungkin terjadi sampai akhir tahun karena risiko inflasi condong meningkat.
Suku bunga yang lebih tinggi dapat membuat obligasi lebih menarik karena menawarkan imbal hasil. Emas tidak memberikan bunga, sehingga daya tariknya dapat berkurang ketika yield obligasi naik. Pada data yang sama, emas turun 1,04% dalam sepekan dan 6,61% sejak 7 September.
Peluang kenaikan bunga pada rapat The Fed 28 Oktober tercatat 19,4% menurut CME FedWatch per 7 Oktober pagi waktu AS, turun dari 37,6% sepekan sebelumnya. Namun, angka itu diambil sebelum risalah terbaru dirilis, sehingga belum mencerminkan perubahan penilaian pasar setelah dokumen tersebut beredar.
Pilihan investasi tetap bergantung pada tujuan
Pergerakan pasar ini berdampak langsung pada nilai investasi yang sensitif terhadap saham dan obligasi. Bareksa mencatat reksadana campuran turun tipis, dengan perubahan harian -0,08% dan -0,34%; kinerjanya dalam sebulan masing-masing turun -0,91% dan -2,35%.
Nilai reksadana dapat bergerak mengikuti aset yang ada di dalam portofolionya, sehingga horizon dan toleransi risiko tetap perlu diperhitungkan.
Untuk dana jangka pendek, reksadana pasar uang dapat dicermati karena berinvestasi pada instrumen jangka pendek yang relatif mudah dicairkan. Reksadana pendapatan tetap dapat dipertimbangkan secara bertahap untuk tujuan jangka menengah, tetapi nilainya dapat turun saat imbal hasil obligasi naik.
Reksadana campuran lebih fluktuatif karena berisi saham, obligasi, dan pasar uang; sumber menyebut pendekatan mencicil untuk tujuan investasi tiga tahun ke atas.
SBR015 juga masuk pilihan yang dapat dipertimbangkan. Masa penawarannya berlangsung 28 September hingga 22 Oktober 2026. Bareksa menyebut seri ini menawarkan kupon tertinggi untuk seri SBR sejak 2020. Informasi tersebut bukan jaminan hasil investasi, dan pilihan produk tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko.
Emas dapat dicermati melalui pembelian berkala untuk tujuan jangka panjang, tetapi volatilitasnya belum hilang. Dalam survei tahunan konferensi London Bullion Market Association, peserta memperkirakan harga rata-rata emas sekitar US$5.013 per ons dalam 12 bulan ke depan. Kitco News mencatat perkiraan tahun sebelumnya sebesar US$4.980 meleset dari realisasi, sehingga proyeksi itu bukan kepastian.
Investor juga menunggu rapat The Fed pada 28 Oktober, pemilu sela AS pada 3 November, serta keputusan MSCI mengenai status pasar Indonesia pada November. FTSE Russell telah mempertahankan status Indonesia sebagai pasar berkembang. Bareksa mengingatkan, “Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.”

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.