JAKARTA — Konsumsi pemerintah tumbuh 8,95 persen pada triwulan III-2026 dan ikut menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,47 persen, menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Kenaikan belanja pemerintah, termasuk untuk program MBG dan KDKMP, menjadi salah satu penggerak pengeluaran negara pada periode itu.
Dampaknya terlihat pada penguatan ekonomi dibandingkan triwulan II-2026, ketika pertumbuhan tercatat 5,29 persen. Namun, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang terbesar berdasarkan kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB), sehingga perubahan belanja negara dan daya beli masyarakat sama-sama penting bagi aktivitas ekonomi.
Konsumsi pemerintah dan dorongan belanja
Airlangga menyebut pemerintah meningkatkan belanja pada triwulan II dan III. Belanja itu masuk ke dalam konsumsi pemerintah melalui sejumlah program, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDKMP).
“Pada dua kuartal ini, yakni triwulan II dan III, belanja pemerintah ditingkatkan. Belanja tersebut menjadi bagian dari konsumsi melalui program-program unggulan pemerintah, termasuk MBG dan KDKMP,” kata Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan konsumsi pemerintah tumbuh 8,95 persen secara tahunan pada kuartal III-2026. Deputi Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, menjelaskan kenaikan itu didorong realisasi belanja pegawai serta belanja barang dan jasa. Belanja barang yang disalurkan kepada masyarakat, termasuk melalui MBG, menjadi salah satu komponennya.
Pertumbuhan konsumsi pemerintah itu lebih cepat dibandingkan capaian 5,66 persen pada triwulan III tahun sebelumnya. BPS juga mencatat komponen ini menyumbang sumber pertumbuhan sebesar 0,62 persen terhadap ekonomi kuartal III-2026.
Angka pertumbuhan konsumsi dan kontribusi terhadap sumber pertumbuhan menunjukkan dua ukuran berbeda: yang pertama menggambarkan laju kenaikan komponen, sedangkan yang kedua menunjukkan sumbangannya pada pertumbuhan ekonomi.
Apa penopang ekonomi selain belanja pemerintah?
Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen dan menyumbang 51,97 persen terhadap PDB nasional. BPS mencatat komponen ini memberi sumber pertumbuhan sebesar 2,62 persen, lebih besar daripada sumbangan sumber pertumbuhan konsumsi pemerintah.
Bagi masyarakat, komposisi ini penting karena belanja negara dapat menggerakkan kegiatan melalui program pemerintah, sementara konsumsi rumah tangga menggambarkan pengeluaran sehari-hari yang menopang permintaan barang dan jasa. Tekanan harga pangan dan energi serta perubahan nilai tukar rupiah tetap menjadi risiko yang dicermati Airlangga karena dapat memengaruhi daya beli.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.