Gula bergerak berlawanan arah. Indeksnya melonjak 6,6% menjadi 121,3 poin, memperpanjang kenaikan selama empat bulan berturut-turut dan mencapai level tertinggi sejak Desember 2024.
Hujan di kawasan Centre-South Brasil mengganggu panen dan pengolahan tebu. Kekhawatiran terhadap prospek produksi India, Uni Eropa, dan Thailand pada musim 2026/2027 juga mendorong harga gula.
Minyak nabati mencatat kenaikan tipis 0,3% menjadi 199,2 poin. Kenaikan harga minyak kedelai dan bunga matahari mengimbangi penurunan minyak rapeseed. Harga kedelai mencapai level tertinggi sejak akhir 2022 karena permintaan biofuel dan berkurangnya pasokan musiman dari Amerika Selatan.
Harga minyak bunga matahari menguat akibat terbatasnya pasokan ekspor dari kawasan Laut Hitam yang masih menghadapi gangguan logistik. Sementara itu, harga internasional minyak sawit relatif stabil sepanjang Oktober, tetapi tetap jauh di atas periode yang sama tahun sebelumnya. Permintaan impor yang kuat dan perkiraan penurunan produksi Asia Tenggara pada musim 2026/2027 mendukung harga.
Inflasi pangan Indonesia belum mengikuti pasar global
Pergerakan minyak sawit berbalik saat memasuki November. Kontrak berjangka minyak sawit mentah (CPO) Malaysia turun 9,04% sepanjang perdagangan 2-6 November 2026, terutama setelah harga minyak kedelai dan minyak mentah dunia melemah.
Perbedaan antara indeks global dan inflasi pangan domestik penting bagi rumah tangga serta industri makanan dan minuman. Harga internasional dapat memengaruhi biaya impor bahan pangan dan bahan baku, tetapi penurunan di pasar dunia tidak otomatis menurunkan harga di toko atau pasar Indonesia.
Nilai tukar, biaya distribusi, pasokan dalam negeri, dan kebijakan perdagangan ikut menentukan harga yang dibayar konsumen. Pada Oktober, kenaikan cabai merah, cabai rawit, dan tomat mendorong inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau meski indeks pangan dunia turun.
Untuk pelaku industri, perubahan harga komoditas juga bergerak dengan arah berbeda. Gula dunia naik tajam, minyak nabati bertambah tipis, sedangkan harga serealia dan beberapa jenis daging melemah. Karena itu, perubahan indeks keseluruhan belum menggambarkan tekanan biaya untuk setiap bahan baku.
Harga pangan dunia yang masih lebih tinggi daripada setahun sebelumnya, ditambah lonjakan gula, menunjukkan tekanan komoditas belum sepenuhnya mereda. Kondisi cuaca, gangguan pasokan, dan perubahan permintaan internasional akan memengaruhi pergerakan harga berikutnya.











































📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.