Impor yang tinggi berkaitan erat dengan kebutuhan produksi. Sebanyak 94,1% impor Vietnam berupa barang input, sementara investasi asing langsung yang terealisasi mencapai US$21,1 miliar. Nilai itu menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir, dengan 82,6% investasi mengalir ke industri pengolahan.
Tetapi, ekspor besar belum tentu berarti nilai tambahnya tinggal di dalam negeri. Komputer dan produk elektronik menjadi kelompok ekspor terbesar Vietnam, sekitar US$124 miliar, sekaligus kelompok impor terbesar dengan nilai sekitar US$189 miliar. Defisit sektor tersebut mencapai US$65 miliar.
Perusahaan asing, termasuk yang bergerak di minyak mentah, menyumbang 80,7% ekspor Vietnam. Perusahaan domestik berkontribusi 19,3%. Bank Dunia mencatat porsi perusahaan Vietnam yang terhubung dengan rantai nilai global turun dari 35% pada 2009 menjadi 18% pada 2023.
Vietnam berhasil menjadi lokasi perakitan bagi pabrik dunia. Tantangan berikutnya ialah membuat lebih banyak pengetahuan dan kemampuan produksi menetap pada perusahaan nasional, bukan hanya mengandalkan komponen impor dan investasi asing.
Manufaktur Indonesia belum menjamin ekspor kompleks
Indonesia juga menghadapi jarak antara besarnya kegiatan industri dan tingkat kecanggihan produk. Industri pengolahan menyumbang sekitar 19% PDB dan menjadi sumber pertumbuhan terbesar pada kuartal III-2026, dengan andil 1,20 poin persentase.
Namun, surplus perdagangan nonmigas Indonesia sebesar US$34,2 miliar pada Januari-September 2026 terutama ditopang produk lemak dan minyak hewani atau nabati sebesar US$29,3 miliar. Bahan bakar mineral menyumbang US$21,4 miliar, sedangkan besi dan baja mencapai US$14,0 miliar.
Di antara lima penyumbang surplus terbesar, alas kaki menjadi satu-satunya produk padat karya, dengan surplus US$4,9 miliar. Komposisi itu menunjukkan bahwa nilai ekspor dapat meningkat tanpa memperluas jenis produk berteknologi tinggi yang dikuasai industri dalam negeri.
Hilirisasi pun perlu dinilai dari hasil akhirnya. Pengolahan komoditas menjadi produk perantara dapat menaikkan nilai ekspor, tetapi belum tentu memperdalam teknologi, memperluas ragam produk, atau meningkatkan kemampuan pemasok lokal.
Dampaknya terasa pada kualitas pekerjaan dan peluang usaha di dalam negeri. Jika investasi hanya membangun lini perakitan dengan komponen impor, perusahaan nasional berisiko mendapat porsi terbatas dalam rantai pasok. Sebaliknya, keterhubungan dengan pemasok lokal membuka jalan bagi pengetahuan produksi dan peningkatan produktivitas untuk menyebar ke usaha domestik.
Investasi perlu memperkuat pemasok lokal
Pelajaran dari kajian Javorcik atas data Lituania menunjukkan limpahan produktivitas dari investasi asing terutama mengalir melalui hubungan dengan pemasok lokal di bagian hulu. Dampaknya tidak terutama datang dari perusahaan asing yang sekadar bersaing di sektor yang sama.
Karena itu, kebijakan investasi perlu mengukur keterlibatan pemasok dalam negeri dan transfer pengetahuan secara jelas. Insentif fiskal seperti pembebasan atau pengurangan pajak, menurut bahan kebijakan yang dibahas, seharusnya terkait dengan target kinerja yang terukur, bukan diberikan tanpa syarat kinerja.
Badan Pusat Statistik melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% secara tahunan pada kuartal III-2026. Angka itu menunjukkan laju pertumbuhan, sementara peringkat kompleksitas mengingatkan bahwa kualitas produksi dan kemampuan industri lokal juga menentukan arah persaingan.











































📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.