Kamis, 23 Juli 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Cerita Rakyat Bangka Belitung : Legenda Panglima Angin

Ilustrasi Panglima Angin, tokoh legendaris dari Mentok, Bangka Belitung yang terkenal dengan kesaktiannya
(Ilustrasi: AI)

Ampun, Baginda! Hamba bersedia menerima hukuman ini. Tapi, berilah hamba waktu tiga hari untuk memulihkan tenaga terlebih dahulu. Hamba sangat kelelahan setelah berhari-hari berlayar terombang-ambing di tengah laut,” pinta Abang Daud.

Setelah berunding dengan panglimanya, sang Raja pun memenuhi permintaan Abang Daud. Sambil menunggu hari pertarungan itu tiba, Abang Daud tinggal di rumah Haji Ali. Agar Abang Daud tidak melarikan diri kembali ke negerinya di Mentok, Raja Palembang mengutus beberapa orang pengawalnya untuk berjaga-jaga di sekitar rumah Haji Ali.

Pada malam harinya, usai makan malam, juragan kapal itu berbincang-bincang dengan Abang Daud.

Hai, Abang Daud! Aku sudah berkali-kali menasihatimu, tapi kamu tetap saja melanggar adat negeri ini. Akhirnya, kamu terima sendiri akibatnya,” ujar Haji Ali.

Tidak usah khawatir, Pak Haji! Semoga saja saya bisa mengatasi masalah ini sendiri. Saya mohon maaf jika telah merepotkan Pak Haji,” kata Abang Daud dengan tenangnya.

Pada hari yang telah ditentukan, Abang Daud datang menghadap sang Raja untuk menepati janjinya. Tak ketinggalan pula Haji Ali bersama warga Mentok lainnya ikut serta ke istana Kerajaan Palembang untuk menyaksikan pertarungan tersebut. Sebagai sesama orang Mentok, mereka senantiasa memberikan semangat dan dukungan kepada Abang Daud agar selamat dari kematian.

Saat rombongan Abang Daud memasuki halaman istana, tampak seluruh keluarga istana dan para pengawal Raja telah memadati sekitar arena pertarungan yang telah disiapkan. Sesekali terdengar suara ejekan dari para penonton yang meremehkan kemampuan Abang Daud.

Ah, orang itu kemari hanya untuk mengantarkan nyawa. Dia pasti akan mati terkapar di atas arena melawan Panglima Tanah Melayu,” ucap seorang pengawal.

Sementara itu, saat melihat kedatangan Abang Daud, Raja Palembang segera memerintahkan hulubalangnya untuk menyediakan berbagai jenis senjata dan menyuruh Abang Daud memilih senjata yang dikehendakinya. Namun, Abang Daud menolak tawaran itu.

Ampun, Baginda! Hamba tidak terbiasa menggunakan senjata dalam bertarung, kecuali taji ayam ini,” kata Abang Daud sambil menunjukkan taji ayamnya.

Halaman:123456Semua Halaman

(FI)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda