Pada suatu ketika, Abang Daud yang bergelar Panglima Angin itu kembali ke kampung halamannya. Di kampungnya, perilaku Panglima Angin semakin menjadi-jadi, sehingga masyarakat Mentok menjadi resah. Mendengar berita tersebut, Tumenggung Mentok pun segera memerintahkan warga untuk menangkapnya. Namun, tak satu pun warga yang mampu mengalahkan kesaktiannya.
“Apa yang harus kita lakukan Tumenggung?” tanya seorang warga dengan risau dalam sebuah pertemuan desa.
“Hmmm… aku kira satu-satunya orang yang dapat menangkap Abang Daud adalah gurunya sendiri. Apakah kalian mengetahui siapa guru Abang Daud?” Tumenggung Mentok balik bertanya kepada warga.
“Hai, bukankah dia dulu pernah berguru pada Pek Long Guan?” sahut seorang warga.
“Benar, Tumenggung! Dia adalah teman seperguruan saya dulu,” tambah seorang warga lainnya.
Akhirnya, beberapa warga segera memanggil Pek Long Guan. Tak berapa lama, guru Abang Daud itu pun datang ke pertemuan desa tersebut.
“Maaf, para hadirin! Sebenarnya saya ragu untuk bisa menangkap Abang Daud, karena saya telah memberikan seluruh ilmuku kepadanya,” ungkap Pek Long Guan.
Setelah didesak oleh para warga, Pek Long Guan pun bersedia membantu dan segera mencari akal untuk dapat mengalahkan kesaktian muridnya itu. Saat itu pula, ia tiba-tiba teringat dengan satu kelemahan Abang Daud. Dulu, Abang Daud pernah bercerita kepadanya bahwa dia tidak bisa berenang.
Oleh karena itu, ia akan membujuknya untuk menemaninya mengambil air di sungai. Pada saat itulah, ia akan mendorong Abang Daud masuk ke dalam sungai. Keesokan harinya, Pek Long Guan pergi menemui Abang Daud. Namun, sebelum mengajak ke sungai, ia berusaha membujuk dan menasehati kembali murid kesayangannya itu.
“ wahai ananda dengarlah amanah,
kalau hidup peganglah wakil
kalau mati peganglah manat
pegang petuah dengan amanah
pegang tunjuk dengan ajarnya
wahai anak dengarlah amanah,
ingat-ingat engkau berjalan
jangan dengar bujukan setan
hawa nafsu jangan turutkan
pertolongan Allah engku mohonkan
hati hati engkau berjalan
petuah amanah jangan lupakan
tunjuk ajar jangan abaikan
ilmu di dada peganglah teguh “
Mendapat nasehat dari gurunya, Abang Daud bukannya berterima kasih, tetapi justru memaki-maki gurunya.
“Hentikan semua omong kosongmu itu Pak Tua! Aku sudah muak dengan semua nasehatmu!” bentak Abang Daud.
“Baiklah, Muridku! Tidak apa-apa jika kamu memang tidak mau mendengar nasehatku lagi. Tapi, aku ada satu permintaan terakhir darimu. Bersediakah kamu membantuku mengambil air di sungai? Persediaan air untuk memasak dan mandi di rumahku sudah habis,” pinta Pek Long Guan.
Rupanya, Abang Daud mengetahui tipu muslihat Pek Long Guan. Ia pun mencari cara untuk membunuh gurunya itu.
“Aku bersedia membantumu, Pak Tua! Tapi, kamu harus berjalan di depanku,” kata Abang Daud.
Akhirnya, mereka pun berangkat bersama ke sungai. Pek Long Guan berjalan di depan, sedangkan Abang Daud mengikutinya dari belakang. Sesampainya di tepi sungai, Pek Long sedikit lengah. Abang Daud pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia pun menendang bokong orang tua itu hingga terpental dan berguling-guling di tanah. Karena memiliki kesaktian tinggi, Pek Long Guan belum mati. Ia pun berusaha bangkit sambil menahan rasa sakit.
”Dasar murid durhaka! Sampai hatinya kau berbuat begitu kepada gurumu ini,” kata Pek Long Guan dengan perasaan kesal.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Apek Long Guan berusaha melakukan perlawanan. Ia mengeluarkan seluruh kemampuan silatnya. Pada saat Abang Daud lengah, ia melayangkan sebuah tendangan keras dan tepat mengenai tengkuk muridnya itu. Abang Daud pun terpental masuk ke dalam sungai dan tenggelam. Akhirnya, murid durhaka itu pun menemui ajalnya.
——————————————————-
Cerita Rakyat Bangka Belitung : Legenda Panglima Angin disadur dari Reinha.com

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.