JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Status penerima bantuan sosial (bansos) seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) di situs cekbansos.kemensos.go.id seringkali berubah menjadi “Tidak Terdapat Peserta”. Perubahan ini, yang kerap memicu kepanikan, umumnya terjadi setelah pemutakhiran Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) oleh Kementerian Sosial (Kemensos). Tercatat ada tujuh alasan utama mengapa nama seseorang bisa terhapus dari daftar DTKS, yang berarti secara otomatis memberhentikan pencairan bansos.
Kemensos secara berkala melakukan verifikasi dan validasi data untuk memastikan bansos tepat sasaran. Jika nama keluar dari DTKS, ini berarti seluruh bantuan sosial yang terafiliasi termasuk PKH, BPNT, atau Kartu Indonesia Sehat Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (KIS PBI JK)—ikut terhenti. Memahami penyebab penghapusan ini krusial agar penerima manfaat bisa mengambil langkah yang tepat, terutama jika merasa datanya tidak akurat.
Penyebab Utama Nama Penerima Bansos Dicoret dari DTKS
Direktorat Jenderal Penanganan Fakir Miskin (PFM) Kemensos dan Badan Pusat Statistik (BPS) memiliki kriteria serta alasan jelas mengapa seseorang dapat dikeluarkan dari DTKS. Berikut adalah tujuh penyebab paling sering terjadi:
- Perbaikan Kondisi Ekonomi (Naik Desil)
Ini penyebab paling umum. Jika hasil survei BPS menunjukkan kondisi ekonomi keluarga membaik, hingga masuk kategori desil 5-10, secara otomatis nama akan dikeluarkan. Bansos memang diprioritaskan untuk masyarakat di desil 1-4 yang masuk kategori miskin atau rentan miskin. Jika data ini benar, tidak ada solusi untuk kembali masuk DTKS kecuali kondisi ekonomi kembali menurun. - Data Ganda atau Duplikat NIK
Terjadi jika satu Nomor Induk Kependudukan (NIK) terdaftar lebih dari satu kali, mungkin di Kartu Keluarga (KK) yang berbeda, atau ada permasalahan administrasi kependudukan lainnya seperti belum pecah KK setelah menikah. Kasus seperti ini memerlukan pelaporan langsung ke Dinas Sosial (Dinsos) setempat dengan membawa KTP dan KK asli untuk proses penghapusan data ganda. - Meninggal Dunia
Data kependudukan dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) akan tersinkronisasi dengan DTKS. Apabila penerima manfaat tercatat meninggal dunia, namanya akan otomatis dicoret. Ahli waris tidak bisa langsung menggantikan posisi tersebut, kecuali ada anggota keluarga lain dalam KK yang sama dan memenuhi kriteria sebagai penerima bansos. - Pindah Alamat atau Keluar Wilayah
Penerima bansos yang pindah domisili (provinsi atau kabupaten) tanpa melapor ke Dinsos di daerah tujuan, berisiko tinggi dihapus dari DTKS. Solusinya adalah melapor ke Dinsos di wilayah domisili baru dan mengajukan proses pemindahan data DTKS. - Tercatat Memiliki Aset atau Pekerjaan Mampu
Sistem DTKS juga memverifikasi kepemilikan aset atau pekerjaan. Jika terdeteksi memiliki kendaraan bermotor roda empat, usaha berskala besar, atau tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS)/Aparatur Sipil Negara (ASN), termasuk pensiunan PNS, nama bisa dicoret. Jika data ini keliru, masyarakat bisa mengajukan ‘Usul’ ke Dinsos dengan membawa bukti-bukti pendukung yang membantah klaim tersebut. - Tidak Melakukan Aktivasi atau Pengambilan Bantuan
Penerima yang tidak pernah memeriksa saldo atau mengambil bansos selama 6 hingga 12 bulan berturut-turut akan dianggap mampu dan tidak lagi membutuhkan bantuan. Biasanya, pengaktifan kembali cukup sulit, namun patut dicoba dengan mengajukan usul ke pendamping sosial PKH atau Dinsos. - Kesalahan Sistem atau Pemutakhiran DataTerkadang, saat ada pemutakhiran besar-besaran, sistem bisa mengalami error atau data ter-reset sementara. Jika ini penyebabnya, disarankan menunggu 1-2 minggu dan memeriksa kembali status. Apabila nama tetap hilang, proses ‘Usul’ harus tetap ditempuh.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.