MAKASSAR — PT ITSEC Asia Tbk bersama Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia menggelar roadshow Gerakan Nasional Ketahanan Siber di Makassar pada Kamis, 25 Juni 2026, untuk membekali para pemimpin industri menghadapi krisis keamanan siber. Forum ini datang saat ancaman digital di Indonesia makin padat, dengan Badan Siber dan Sandi Negara mencatat lebih dari 5,16 miliar anomali trafik sepanjang 2025.
Respons insiden kini sama pentingnya dengan pencegahan
Angka BSSN itu memberi sinyal yang sulit diabaikan. Trafik anomali dalam jumlah besar bukan sekadar statistik di layar, melainkan petunjuk bahwa organisasi harus siap menghadapi serangan, gangguan sistem, kebocoran data, sampai dampak operasional yang bisa merembet ke layanan pelanggan dan reputasi perusahaan.
Di titik ini, banyak organisasi masih menaruh beban utama pada tim teknologi informasi. Padahal, ketika sebuah insiden siber terjadi, keputusan cepat justru sering dibutuhkan di level manajemen. Siapa yang harus berbicara ke publik, sistem mana yang diputus, bagaimana komunikasi ke pelanggan dijaga, dan kapan layanan dipulihkan. Semua itu bukan urusan teknis semata.
President Director ITSEC Asia Patrick Dannacher menegaskan hal itu saat forum berlangsung. Menurut dia, ancaman siber sudah masuk ke ruang rapat pimpinan dan tidak lagi bisa dipandang sebagai persoalan teknis yang dibiarkan hanya di meja tim IT.
“Ketika sebuah insiden terjadi, dampaknya bisa meluas ke operasional bisnis, layanan kepada pelanggan, hingga reputasi organisasi. Karena itu, kesiapan menghadapi krisis siber tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab tim IT saja,” kata Patrick dalam keterangan pers, Jumat, 26 Juni 2026.
Ia menambahkan, kemampuan merespons insiden sama pentingnya dengan kemampuan mencegahnya. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi relevansinya besar. Banyak perusahaan rajin memasang kontrol keamanan, namun belum tentu punya prosedur yang rapi saat serangan benar-benar masuk.
Kenapa forum ini menyasar pemimpin, bukan cuma teknisi
GNKS di Makassar dirancang untuk mempertemukan pemimpin industri, praktisi keamanan siber, dan pemangku kepentingan lain. Tujuannya bukan mengajari peserta dari nol tentang istilah teknis, melainkan membantu mereka memetakan risiko, menyusun desain pengamanan, dan membuat keputusan yang lebih cepat saat krisis datang.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.