Sebanyak 22,9 juta penyandang disabilitas di Indonesia kini menjadi fokus utama pemerintah untuk mendapatkan kesetaraan akses berolahraga. Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) menggelar pelatihan intensif bertajuk “Berdaya” di Hotel Fitra, Majalengka, Jawa Barat, untuk mencetak agen perubahan di tingkat akar rumput.
Langkah ini diambil karena data partisipasi olahraga penyandang disabilitas masih sangat rendah. Saat ini, hanya 11,6 persen dari total populasi tersebut yang aktif melakukan aktivitas fisik. Angka ini menjadi alarm keras bagi ekosistem olahraga nasional. Kesenjangan akses, minimnya fasilitas, hingga kelangkaan tenaga kepelatihan yang kompeten menjadi dinding penghalang yang harus diruntuhkan segera.
Plt. Asisten Deputi Olahraga Layanan Khusus Kemenpora, Ahmad Arsani, membuka kegiatan pada Kamis (16/7) siang dengan nada tegas. Ia menekankan bahwa pelatihan ini bukan sekadar formalitas sertifikasi. Program ini merupakan mesin penggerak untuk melahirkan mentor-mentor yang mampu menyentuh penyandang disabilitas di pelosok daerah. Arsani melihat bahwa tanpa adanya pelatih yang paham cara menangani kebutuhan khusus, impian untuk menjadikan olahraga sebagai gaya hidup inklusif akan sulit terwujud.
Kondisi lapangan saat ini memang cukup menantang. Jumlah tenaga kepelatihan yang tersedia masih jauh dari kata ideal. Kemenpora mencoba memecahkan kebuntuan ini melalui pendekatan “Berdaya”. Fokusnya jelas: memindahkan pusat pengembangan dari kota besar ke daerah-daerah melalui kaderisasi pelatih lokal. Strategi ini diharapkan mampu menciptakan efek domino. Ketika satu pelatih terlatih di satu desa, mereka bisa merangkul puluhan penyandang disabilitas untuk mulai bergerak.
Diskusi di Hotel Fitra siang itu mengalir cukup intens. Para peserta yang hadir tidak hanya belajar teori teknis, tetapi juga diajak memahami filosofi inklusivitas. Olahraga bukan lagi sekadar ajang kompetisi, melainkan hak asasi bagi setiap warga negara tanpa memandang kondisi fisik. Pemerintah sadar betul bahwa membangun ekosistem yang berkeadilan membutuhkan waktu dan konsistensi.
Di luar isu disabilitas, Kemenpora juga terus memacu prestasi atlet di kancah internasional. Belum lama ini, Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga, Surono, menyambut kepulangan tim nasional panjat tebing yang baru saja berlaga di World Climbing Series. Atlet-atlet seperti Desak Made disambut hangat di Bandara Soekarno-Hatta pada Selasa (14/7) sore. Keberhasilan mereka menjadi bukti nyata bahwa dukungan pemerintah terhadap prestasi olahraga tidak pernah surut.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.