Meski sang anak berbentuk seperti katak, Nenek tetap bersyukur atas kelahirannya.
“Terima kasih, Tuhan. Kau telah mengabulkan permintaanku. Aku akan merawatnya dengan baik dan sungguh-sungguh,” ucap Nenek sambil memeluk anaknya.
Waktu terus berjalan. Anak itu pun telah dewasa. Para penduduk menyebutnya dengan nama ‘Bujang Katak’. Tuhan Maha Baik. Ia menganugerahkan anak yang sangat baik kepada nenek tua itu.
Bujang Katak adalah sosok pemuda yang rajin dan baik hati. Tiap hari, ia menggantikan pekerjaan ibunya di ladang. Namun, Bujang Katak tak pernah pergi ke mana-mana.
Setiap hari, ia hanya menghabiskan waktunya di rumah atau di ladang. Ia juga memperbaiki gubuknya agar tak reyot lagi. Nenek sangat menyayangi anak semata wayangnya itu.
Pada suatu pagi, Bujang Katak bertanya pada sang ibu saat mereka sedang bersantai di depan rumah.
“Bu, maukah kau menceritakan padaku tentang negeri ini?” ucapnya penasaran.
“Tentu saja, Anakku. Negeri yang aman dan tenteram ini dipimpin oleh Raja yang sangat baik dan bijaksana. Ia memiliki tujuh anak perempuan yang sangat cantik jelita. Namun, ketujuh anak Raja belum ada satu pun yang menikah,” ucap sang ibu.
Sejak mendengar cerita ibunya, Bujang Katak jadi sering membayangkan kecantikan para putri Raja. Ia juga sering melamun dan membayangkan meminang salah satu putri.
Sang Ibu yang sedari tadi melihat anaknya melamun pun bertanya, “Anakku, Sayang, apa yang sedang kau pikirkan? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?” ucap sang Ibu.
“Benar, Bu. Aku memang sedang memikirkan sesuatu yang sangat mengganggu pikiranku,” ucap Bujang Katak.
“Apakah itu, Nak? Katakanlah pada Ibu,” desak sang Ibu.
“Sebenarnya, aku ingin menikahi salah satu putri Raja, Bu. Aku terus-terusan membayangkan kecantikan mereka,” ucapnya.
“Ibu paham benar kau sudah dewasa dan butuh sosok istri. Tapi, permintaanmu itu sangatlah berat, Anakku. Mustahil dari tujuh putri Raja mau menikah dengan orang miskin. Ditambah lagi dengan kondisimu yang seperti ini, Nak. Maafkan Ibu,” ucap sang Ibu.