“Nak, bagaimana bisa kita membuat jembatan emas? Kita ini orang miskin, Nak. Ibu tak mau hidup sendiri lagi. Ibu tak mau kehilangan dirimu, Nak,” ucap sang Ibu sambil menangis karena ketakutan.
Mendengar sang Ibu menangis, Bujang Katak merasa sangat bersalah.
“Maafkan aku, Bu. Karena keinginanku menikahi Putri Sulung membuatmu khawatir dan bersedih. Tapi, tenanglah, Bu. Aku akan pergi bertapa di gua dekat gunung. Jika sang Maha Kuasa menghendaki, maka apa pun bisa terjadi,” ucap Bujang Katak penuh keyakinan.
Saat malam tiba, Bujang Katak berpamitan dengan ibunya.
“Bu, aku pamit bertapa. Selama aku pergi, Ibu jaga diri baik-baik. Kalau Sang Maha Kuasa menghendaki ku menikahi Putri Sulung, aku akan membawa Ibu ke istana. Tapi, kalau pun Ia tak menghendaki, Ia pasti berikan petunjuk agar aku selamat dari ancaman Raja dan tetap bersama Ibu. Berhentilah menangis dan doakan aku bisa melalui ini semua, Bu,” ucap Bujang Katak sambil menyeka air mata sang Ibu.
Sang Ibu tak bisa berkata apa-apa. Ia tak kuasa menahan tangis dan memeluk sang anak. Setelah kepergian Bujang Katak, sang Ibu tiada henti memanjatkan doa.
Sudah enam hari dan enam malam sejak Bujang Katak bertapa di gua. Akan tetapi, keajaiban tak kunjung datang. Di gubuk, sang Ibu senantiasa berlutut dan berdoa.
“Tuhan, bantulah anakku. Berikan keajaiban kepadanya. Tuhan, aku sangat memohon kepadamu. Jika Kau tak menghendaki anakku menikah dengan Putri Raja, jangan ambil nyawanya, tapi ambil saja nyawaku,” doanya memohon.
Pada hari ketujuh pemuda itu bertapa, tiba-tiba keajaiban pun terjadi. Seluruh tubuh Bujang Katak memancarkan sinar berwarna kuning keemasan. Sedikit demi sedikit, kulit katak yang melapisi kulitnya mengelupas. Bujang Katak pun secara ajaib berubah menjadi pria yang tampan dan gagah.
Lalu, tiba-tiba ada suara yang entah datangnya dari mana.
“Bakar lah kulit katak yang mengelupas dari tubuhmu itu. Maka keajaiban yang lain kan segera tiba,” ujar suara misterius itu.